Thursday, June 29, 2006

Kecam Zionis Israel; Solat Hajat

PAS membantah keras kekejaman rejim Zionis Israel yang sedang secara rakus menceroboh bumi Gaza di Palestin tanpa sebarang sifat kemanusiaan serta menangkap beberapa menteri kanan dan ahli-ahli Parlimen kerajaan Hamas.

Insiden ini jelas menunjukkan kebiadapan rejim Zionis Israel yang tidak langsung menghormati undang-undang antarabangsa serta kedaulatan sebuah negara walaupun mendapat bantahan dan kecaman dari pelbagai pihak.

Keangkuhan rejim Zionis ini dapat dilihat dengan jelas apabila mereka memberi alasan menceroboh Gaza bagi menyelamatkan seorang tentera Yahudi yang telah ditawan oleh pejuang-pejuang Palesatin sedangkan mereka telah membunuh ribuan pemuda-pemuda, ibu-ibu serta anak-anak kecil Palestin tanpa sebarang rasa belas kasihan.

PAS melahirkan rasa dukacita terhadap kebanyakan negara-negara Islam dan komitmen sebenar mereka yang tidak lagi mampu memberi pembelaan kepada saudara-saudara mereka di bumi suci Palestin.

Begitu juga dengan kelemahan ketara Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) dan Liga Arab yang sepatutnya menjadi benteng penyelamat kepada umat Islam yang teraniya akibat kekejaman rejim Zionis Israel ini.

PAS ingin menyeru kepada semua negara-negara Islam, OIC, Liga Arab, PBB serta masyarakat antarabangsa agar dapat kembali memainkan peranan mereka bagi membantah sikap biadap rejim Zionis yang telah bertindak melampaui batas-batas kemanusiaan dengan menceroboh serta terus menerus membunuh umat Islam Palestin dengan kejam dan zalim.

PAS menegaskan bahawa ancaman besar kepada keamanan dunia sekarang ialah kuasa besar Amerika Syarikat dan sekutunya yang lantang bercakap membela keadilan dan demokrasi tetapi pada masa yang sama mereka juga menjadi pelindung kepada setiap tindakan kejam rejim Zionis Israel di bumi Palestin walaupun ia bertentangan dengan undang-undang antarabangsa serta boleh menggugat keamanan dunia.

Akhirnya kami menyeru setiap ahli PAS di semua peringkat serta umat Islam seluruhnya agar bersama-sama mengadakan solat hajat, berdoa serta bermunajat memohon pertolongan Allah SWT agar memberi kekuatan serta melindungi saudara-saudara kita di bumi suci Palestin yang terus dilanda ujian yang besar akibat tindakan biadap dan jahat rejim Zionis Israel.

Pejabat Presiden,
PASJalan Pahang,
Off Jalan Pahang Barat.
28 Jun 2006/3 Jamadil Akhir 1427

Saturday, June 17, 2006

Qiraat 6

Qari Tujuh Yang Masyhur

Para Qari yang hafal Al-Qur'an dan terkenal dengan hafalan serta ketelitiannya dan menyampaikan qira'at kepada kita sesuai dengan yang mereka terima dari sahabat Rasulullah SAW. Qira'at yang mutawatir semuanya kita kutip dari para qari yang hafal Al-Qur'an dan terkenal dengan hafalan serta ketelitiannya. Mereka ialah imam-imam qira'at yang masyhur yang meyampaikan qira'at kepada kita sesuai dengan yang mereka terima dari sahabat Rasulullah SAW.

Mereka memiliki keutamaan ilmu dan pengajaran tentang kitabullah Al-Qur'an sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baiknya orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya".

Syaikh Abul Yusri 'Abidin telah menyebutkan nama-nama qari dalam dua bait sya'ir:
Nafi', Ibnu Katsir, 'Ashim dan Hamzah, Abu 'Amer, Ibnu 'Amir dan Kisaiy. Itulah tujuh Imam yang tak diragukan lagi.


1. Ibnu 'Amir
Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahshshuby seorang qadhi di Damaskus pada masa pemerintahan Walid ibnu Abdul Malik. Pannggilannya adalah Abu Imran. Dia adalah seorang tabi'in, belajar qira'at dari Al-Mughirah ibnu Abi Syihab al-Mahzumy dari Utsman bin Affan dari Rasulullah SAW. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. Orang yang menjadi murid, dalam qira'atnya adalah Hisyam dan Ibnu Dzakwan.

Dalam hal ini pengarang Asy-Syathiby mengatakan: "Damaskus tempat tinggal Ibnu 'Amir, di sanalah tempat yang megah buat Abdullah. Hisyam adalah sebagai penerus Abdullah. Dzakwan juga mengambil dari sanadnya.

2. Ibnu Katsir
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibnu Katsir ad-Dary al-Makky, ia adalah imam dalam hal qira'at di Makkah, ia adalah seorang tabi'in yang pernah hidup bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair. Abu Ayyub al-Anshari dan Anas ibnu Malik, dia wafat di Makkah pada tahun 120 H. Perawinya dan penerusnya adalah al-Bazy wafat pada tahun 250 H. dan Qunbul wafat pada tahun 291 H.


Asy-Syathiby mengemukakan: "Makkah tempat tinggal Abdullah. Ibnu Katsir panggilan kaumnya. Ahmad al-Bazy sebagai penerusnya. Juga..... Muhammad yang disebut Qumbul namanya.

3. 'Ashim al-Kufy
Nama lengkapnya adalah 'Ashim ibnu Abi an-Nujud al-Asady. Disebut juga dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu Bakar, ia adalah seorang tabi'in yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah. Kedua Perawinya adalah; Syu'bah wafat pada tahun 193 H dan Hafsah wafat pada tahun 180 H.


Kitab Syathiby dalam sya'irnya mengatakan: "Di Kufah yang gemilang ada tiga orang. Keharuman mereka melebihi wangi-wangian dari cengkeh Abu Bakar atau Ashim ibnu Iyasy panggilannya. Syu'ba perawi utamanya lagi terkenal pula si Hafs yang terkenal dengan ketelitiannya, itulah murid Ibnu Iyasy atau Abu Bakar yang diridhai.

4. Abu Amr
Nama lengkapnya adalah Abu 'Amr Zabban ibnul 'Ala' ibnu Ammar al-Bashry, sorang guru besar pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yahya, menurut sebagian orang nama Abu Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H. Kedua perawinya adalah ad-Dury wafat pada tahun 246 H. dan as-Susy wafat pada tahun 261 H.


Asy-Syathiby mengatakan: "Imam Maziny dipanggil orang-orang dengan nama Abu 'Amr al-Bashry, ayahnya bernama 'Ala, Menurunkan ilmunya pada Yahya al-Yazidy. Namanya terkenal bagaikan sungai Evfrat. Orang yang paling shaleh diantara mereka, Abu Syua'ib atau as-Susy berguru padanya.

5. Hamzah al-Kufy
Nama lengkapnya adalah Hamzah Ibnu Habib Ibnu 'Imarah az-Zayyat al-Fardhi ath-Thaimy seorang bekas hamba 'Ikrimah ibnu Rabi' at-Taimy, dipanggil dengan Ibnu 'Imarh, wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu Ja'far al-Manshur tahun 156 H. Kedua perawinya adalah Khalaf wafat tahun 229 H. Dan Khallad wafat tahun 220 H. dengan perantara Salim.


Syatiby mengemukakan: "Hamzah sungguh Imam yang takwa, sabar dan tekun dengan Al-Qur'an, Khalaf dan Khallad perawinya, perantaraan Salim meriwayatkannya.

6. Imam Nafi
Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi' ibnu Abdurrahman ibnu Abi Na'im al-Laitsy, asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Nafi' berakhirlah kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H. Perawinya adalah Qalun wafat pada tahun 12 H, dan Warasy wafat pada tahun 197 H.


Syaikh Syathiby mengemukakan: "Nafi' seorang yang mulia lagi harum namanya, memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya. Qolun atau Isa dan Utsman alias Warasy, sahabat mulia yang mengembangkannya.

7. Al-Kisaiy
Nama lengkapnya adalah Ali Ibnu Hamzah, seorang imam nahwu golongan Kufah. Dipanggil dengan nama Abul Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisaiy karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah yaitu sebuah desa di Negeri Roy ketika ia dalam perjalanan ke Khurasan bersama ar-Rasyid pada tahun 189 H. Perawinya adalah Abul Harits wafat pada tahun 424 H, dan ad-Dury wafat tahun 246 H.


Syathiby mengatakan: "Adapun Ali panggilannya Kisaiy, karena kisa pakaian ihramnya, Laits Abul Haris perawinya, Hafsah ad-Dury hilang tuturnya.

Qiraat 5

Jumlah Qira'at Dan Aneka Ragam Pendapat Tentang Qira'at
Qira'at ada macam-macam jenisnya. Pendapat tentang qira'at itu sendiri juga sangatlah beragam dan semua pendapat tersebut sangatlah berbobot seperti yang tertera di bawah ini.
Pengarang kitab Al-Itqan menyebutkan macam-macam qira'at itu ada yang mutawatir, masyhur, syadz, ahad, maudhu' dan mudarraj.

Qadhi' Jalaluddin al-Bulqiny mengatakan: Qira'at itu terbagi ke dalam: mutawatir, ahad dan syadz.

Yang mutawatir adalah qira'at tujuh yang masyhur. Yang ahad adalah qira'at tsalatsa (tiga) yang menjadi pelengkap qira'ah 'asyrah (sepuluh), yang kesemuanya dipersamakan dengan qira'at para sahabat. Adapun qira'at yang syadz ialah qira'at para tabi'in seperti qira'at A'masy, Yahya ibnu Watsab, Ibnu Jubair dan lain-lain.

Imam as-Suyuthy mengatakan bahwa kata-kata di atas perlu ditinjau kembali. Yang pantas untuk berbicara dalam bidang ini adalah tokoh qurra' pada masanya yang bernama Syaikh Abu al-Khair ibnu al-Jazary dimana beliau mengatakan dalam muqaddimah kitabnya An-Nasyr: Semua qira'at yang sesuai dengan bacaan Arab walau hanya satu segi saja dan sesuai dengan salah satu mushhaf Utsmany walaupun hanya sekedar mendekati serta sanadnya benar maka qira'at tersebut adalah shahih (benar), yang tidak ditolak dan haram menentangnya, bahkan itu termasuk dalam bagian huruf yang tujuh dimana Al-Qur'an diturunkan. Wajib bagi semua orang untuk menerimanya baik timbulnya dari imam yang tujuh maupun dari yang sepuluh atau lainnya yang bisa diterima. Apabila salah satu persyaratan yang tiga tersebut di atas tidak terpenuhi maka qira'at itu dikatakan qira'at yang syadz atau bathil, baik datangnya dari aliran yang tujuh maupun dari tokoh yang lebih ternama lagi. Inilah pendapat yang benar menurut para muhaqqiq dari kalangan salaf maupun khalaf.

Pengarang kitab Ath-Thayyibah dalam memberikan batas diterimanya qira'at mengatakan: Setiap bacaan yang sesuai dengan nahwu, mirip dengan tulisan mushhaf Utsmany, benar adanya itulah bacaan. Ketiga sendi ini, bila rusak salah satunya menyatakan itu cacat, meski dari qira'at sab'ah datangnya.

Qira'at ada yang mengartikan qira'at sab'ah, qira'at sepuluh dan qira'at empat belas. Semuanya yang paling terkenal dan nilai kedudukannya tinggi ialah qira'at sab'ah.

Qira'at sab'ah (tujuh) adalah qira'at yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan terkenal, yaitu: Nafi', Ashim, Hamzah, Abdullah bin Amir, Abdullah ibnu Katsir, Abu Amer ibnu 'Ala' dan Ali al-Kisaiy.

Qira'at 'asyar (sepuluh) adalah qira'at yang tujuh ditambah dengan qira'at: Abi Ja'far, Ya'qub dan Khalaf.

Qira'at arba' 'asyar (empat belas) yaitu qira'at yang sepuluh ditambah empat qira'at: Hasan al-Bashry, Ibnu Mahish, Yahya al-Yazidy dan asy-Syambudzy.

Ilmu qira'at adalah ilmu yang lahir pada masa yang sebelumnya tidak pernah disebut-sebut. Orang yang pertama menyusunnya adalah Abi Ubaid al-Qasim ibnu Sallam, Abu Hatim as-Sajistany, Abi Ja'far ath-Thabary dan Ismail al-Qadhy.

Bilakah qira'at menjadi popular?

Qira'at sab'ah popular diseluruh negara Islam pada permulaan abad kedua hijriyah. Di Bashrah orang membaca menurut qira'at Abi Amr dan Ya'qub. Di Kufah menurut qira'at Hamzah dan Ashim, di Syam menurut qira'at Ibnu Amir, di Makkah menurut qira'at Ibnu Katsir dan di Madinah menurut qira'at Nafi'.

Saturday, June 10, 2006

Qiraat 4

Qira'at Yang Masyhur

Pengertiannya dan perkembangannya dari awal hingga para tokoh yang ada di dalam pengembangannya. Pada pembahasan yang terakhir ini kami menganggap penting untuk membicarakan sekelumit tentang qira'at-qira'at. Bagaimana timbulnya dan siapa tokohnya yang terkenal.

1. Pengertian Qira'at
Al-Qira'at adalah jamak dari kata qir'at yang berasal dari qara'a - yaqra'u - qirâ'atan. Menurut istilah qira'at ialah salah satu aliran dalam mengucapkan Al-Qur'an yang dipakai oleh salah seorang imam qura' yang berbeda dengan lainnya dalam hal ucapan Al-Qur'anul Karim. Qira'at ini berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

2. Apakah pada masa Sahabat sudah ada qari-qari?
Benar ada. Periode qura' yang mengajarkan bacaan Al-Qur'an kepada orang-orang menurut cara mereka masing-masing adalah dengan standard dari masa sahabat yang mulia.
Diantara sahabat yang populer dengan bacaannya adalah: Ubay, Aly, Zaid ibnu Tsabit, Ibnu Mas'ud. Abu Musa al-Asy'ary dan lain-lain.


Dari mereka itulah kebanyakan para sahabat dan tabi'in di seluruh daerah belajar. Mereka itu semuanya berpedoman kepada Rasulullah SAW sampai dengan datangnya masa tabi'in pada permulaan abad ke-2 H. Selanjutnya timbul golongan-golongan yang begitu memperhatikan adanya tanda baca secara sempurna manakala diperlukan dan mereka menjadikannya sebagai satu cabang dari ilmu sebagaimana halnya ilmu-ilmu syari'at yang lain.

3. Bagaimanakah sejarah timbulnya Qira'at ?
Telah kami ketahui terdahulu bahwa periodesasi qurra' adalah sejak zaman sahabat sampai dengan masa tabi'in. Orang-orang yang menguasai tentang Al-Qur'an ialah yang menerimanya dari orang-orang yang dipercaya dan dari imam demi imam yang akhirnya berasal dari Nabi.
Sedangkan mushhaf-mushhaf tersebut tidaklah bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Kalau tidak, maka kalimat itu harus ditulis pada mushhaf dengan satu wajah kemudian ditulis pada mushhaf lain dengan wajah yang lain dan begitulah seterusnya.


Tidaklah diragukan lagi bahwa penguasaan tentang riwayat dan penerimaan adalah merupakan pedoman dasar dalam bab qira'at dan Al-Qur'an.

Kalangan sahabat sendiri dalam pengambilannya dari Rasul berbeda-beda. Ada yang membaca dengan satu huruf sedang yang lain ada yang mengambilnya dan huruf/bacaan. Dan bahkan yang lain lagi ada yang lebih dari itu. Kemudian mereka bertebaran ke seluruh penjuru daerah dalam keadaan semacam ini.

Utsman r.a. ketika mengirim mushhaf-mushhaf ke seluruh penjuru kota ia mengirimkan pula orang yang sesuai bacaannya mempunyai satu segi bacaan dan yang lainnya ada pula yang lebih dari itu. Oleh karena itulah timbulnya banyak perbedaan dan kurang adanya keseragaman antara sesamanya.

Pada masa itu himbauan tokoh-tokoh dan pemimpin ummat untuk bekerja keras sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga bisa membedakan antara bacaan yang benar dan yang tidak benar. Mereka mengumpulkan huruf dan qira'at, mengembangkan wajah-wajah dan dirayah, menjelaskan yang benar dan yang salah serta yang berkembang dan yang punah dengan pedoman-pedoman yang mereka kembangkan dan segi-segi yang mereka utamakan.(1)
(1). Manahilul 'Irfan, juz I, hal: 407.

Sunday, June 04, 2006

Keutamaan Menghafal Al Quran

Banyak hadith Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghafal Al Quran, atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong darisesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadith yang diriwayatkan oleh IbnuAbbas secara marfu`:
"Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuhyang mauh runtuh " 1

Dan Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yangmempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghafalnya, memberitahukan kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata:

Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai fulan?” ia menjawab: aku telah hafal surah ini dan surah ini, serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya:Apakah engkau hafal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:

“Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari AlQuran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi denganminyak kasturi, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Quran— adalahseperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak kasturi " 2

Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW mendahulukan orang yang menghafal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya, seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud. Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghafal Al Quran dari kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya,karena dengan hafalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Di antarasahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yangterkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.

Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah(kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orangitu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku,redhailah dia, maka Allah SWT meredhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu:bacalah dan teruslah naiki (darjat-darjat surga), dan Allah SWT menambahkan darisetiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan " 3

Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghafal dan ahli Al Quran saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari,kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan didunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” 4

Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa mengarahkan anaknya untuk menghafal dan mempelajari Al Quran semenjak kecil. Dan dalam hadith terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak mereka untuk menghafal Al Quran semenjak kecil.
Ibnu Mas`ud berkata:


“Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ” 5

Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan berkah. Al Munziri meriwayatkan dalam kitab At Targhib wa At Tarhib dengan kata: “ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang palinghina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.

1- Hadith diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata: hadith ini hasan sahih.
2- Hadith diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadith hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaan 2126), dan dalam sanadnya ada `Atha, Maula Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpercaya kecuali oleh Ibnu Hibban.
3- Hadith diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadith hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia menilainya hadith sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
4-Hadith diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadith ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad
Darimi dalam Sunannya (3257), penj.
5-Diriwayatkan oleh Al Hakim dari Ibnu Mas`ud secara Mauquf. Ia berkata: sebagian mereka
memarfu`kannya, demikian juga dikatakan oleh Adz Dzahabi (1/566).


(dipetik dari Menghafal Al-Quran -Yusof Qaradawi)